sumutbisa.online, Medan – Wali Kota Medan Rico Tri Putra Waas menegaskan, penanganan konflik sosial berupa tawuran di Belawan tidak bisa diselesaikan secara instan namun memerlukan pendekatan yang berkelanjutan.
Pemko Medan berkomitmen menangani masalah ini secara konsisten dengan melibatkan seluruh elemen terkait.
“Penanganan konflik sosial berupa tawuran di kawasan Belawan memerlukan pendekatan yang berkelanjutan dan tidak bisa diselesaikan secara instan namun Pemko Medan berkomitmen menangani masalah ini secara konsisten dan terukur dengan melibatkan seluruh elemen terkait,” ujar Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, Minggu (5/4) saat dikonfirmasi wartawan terkait maraknya aksi tawuran yang diwarnai dengan penjarahan dan pengrusakan rumah warga di wilayah hukum Polres Pelabuhan Belawan.
Rico Waas juga mengungkapkan bahwa aparat gabungan dari unsur Forkopimda terus melakukan patroli intensif guna menjaga kondusivitas wilayah, karakteristik tawuran di Belawan cenderung berulang-ulang, sehingga pengamanan tidak boleh kendor.
“Penanganan ini tidak bisa sekali selesai. Sifatnya berulang, hilang satu akan tumbuh lagi. Karena itu kita harus lakukan dengan kekuatan penuh dan secara konsisten mengatasi tawuran,” tegas Rico Waas yang didampingi Dan Kodaeral I Laksamana Muda TNI Deny Septiana dan Wadan Kodaeral I Brigjen TNI Ali Bahar S.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri penyambutan KRI Bima Suci di Dermaga 104 Pelabuhan Belawan.
Rico menambahkan, sebagai langkah taktis di lapangan, dirinya telah menginstruksikan para camat di wilayah terdampak tawuran untuk melakukan pemantauan melekat.
“Para camat diwajibkan memberikan laporan rutin tiga kali sehari pagi, siang, dan malam, terkait kondisi keamanan serta upaya penertiban yang dilakukan di wilayah kecamatan masing-masing,” terang Rico.
Rico juga mengakui bahwa meskipun razia rutin mencegah tawuran digelar, aksi tawuran masih kerap terjadi namun dia menilai fenomena ini merupakan hilir dari berbagai persoalan sosial yang kompleks di masyarakat, seperti: Penyalahgunaan Narkoba menjadi salah satu pemicu utama instabilitas emosi remaja.
“Kesenjangan Sosial: Masalah kesejahteraan yang belum merata. Pendidikan: Kurangnya wadah positif bagi generasi muda. Jadi, tawuran ini bukan hanya soal keamanan. Ada faktor sosial, Narkoba, pendidikan, hingga kesejahteraan masyarakat yang harus kita benahi bersama,” ungkap Rico.
Tindak Tegas Aksi Penjarahan
Wali Kota Medan ini juga memberikan peringatan keras terhadap eskalasi tawuran yang mengarah pada tindakan kriminalitas lainnya, seperti penjarahan dan pengrusakan.
“Negara harus hadir untuk memberikan proteksi maksimal kepada warga yang merasa terancam. Kalau sudah mengarah ke penjarahan, itu jelas tidak bisa dibenarkan. Pemerintah harus hadir untuk memastikan masyarakat merasa aman,” sebut Rico.
Ke depan, tambah Rico, Pemko Medan tengah menyiapkan program strategis yang menyasar akar masalah di Belawan, meliputi pembangunan Infrastruktur dengan memperbaiki tata ruang kawasan agar lebih tertata.
Selain itu, meningkatan SDM dengan melaksanakan program pendidikan dan pelatihan keterampilan bagi pemuda.
“Membuka Lapangan Kerja dengan memperluas akses ekonomi bagi warga sekitar pelabuhan. Dengan pendekatan yang komprehensif ini, diharapkan angka tawuran di Belawan dapat ditekan secara signifikan demi menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi masa depan generasi mendatang,” tutup Rico.
Sebelumnya, aksi tawuran yang diwarnai dengan penjarahan dan pengrusakan rumah warga terjadi di Kelurahan Belawan Sicanang Kecamatan Medan Belawan, Sabtu (4/4) sekira pukul 23.00 Wib.
Salah seorang pemilik rumah bernama Horas Hutauruk, 44, menjadi korban penjarahan dan pengrusakan. Tak hanya itu, istri Horas dan anaknya yang berusia 11 tahun sempat diseret-seret oleh para pelaku tawuran. Akibat penjarahan tersebut, Horas Hutauruk menderita kerugian lebih kurang Rp50 juta. (wsp/m25)







