sumutbisa.online, Medan – Perempuan itu tumbuh dalam ritme yang nyaris tak memberi ruang untuk diam.
Sejak kecil, hari-hari Tiara Aurelia di Tanjungbalai diisi jadwal yang padat sepulang sekolah bimbingan belajar hingga sore, magrib mengaji, malam les bahasa Inggris.
Disiplin adalah bahasa cinta yang paling ia pahami dari orang tuanya. Ibunya tegas dalam urusan akademik, sementara sang ayah berdarah Tionghoa mewariskan pola asuh yang keras namun konsisten.
“Di usia belia, saya anak yang biasa saja,” ujarnya pelan.
Tak pernah merasa paling pintar di kelas. Matematika dan pelajaran lain dijalani sekadarnya. Namun ada satu hal yang diam-diam tumbuh kecintaannya pada seni.
Menggambar, bernyanyi, bermain gitar, hingga kaligrafi.
Bakat itu baru benar-benar menemukan bentuknya ketika ia menginjak SMP dan SMA saat Tiara mulai mengenal dirinya sendiri.
Salah satu kenangan masa kecil yang paling membekas justru sederhana belajar naik sepeda. Dari roda tambahan hingga akhirnya berani mengayuh sendiri. Ia jatuh, bangkit, jatuh lagi.
Orang tuanya selalu meyakinkan agar mencoba ulang.
“Sekarang saya sadar, hidup juga seperti itu,” katanya.
Bedanya, saat dewasa, tak selalu ada orang yang menyuruh bangkit. Kita harus melakukannya sendiri.
Merantau ke Medan untuk kuliah di Universitas Negeri Medan bukan perkara mudah. Tiara mengaku sempat canggung dan takut bepergian sendiri. Ia perlu waktu beradaptasi dengan gaya bicara orang Medan yang terdengar keras, meski sebenarnya tidak marah.
Sebagai perempuan, pengalaman tidak menyenangkan pun pernah ia alami mulai dari cat calling hingga kejadian kos hampir kemalingan. Semua itu membuatnya belajar lebih waspada dan mandiri.
Perjalanan akademiknya menuju panggung nasional berawal dari sesuatu yang sederhana “keisengan”.
Tahun 2023, ia direkomendasikan dosen untuk bergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Timnya gagal lolos ke PIMNAS.
Namun kegagalan itu tak menghentikannya. Tahun berikutnya, Tiara kembali mencoba kali ini sebagai ketua tim.
Ia mengangkat persoalan kebocoran perahu nelayan di kampung halamannya. Masalah lokal yang sering luput dari perhatian. Kerja keras itu berbuah manis.
Tiara berhasil membawa timnya melaju ke PIMNAS ke-37 di Universitas Airlangga, Surabaya, dan menjadi Finalis PIMNAS Unair 2024.
“Momen paling menegangkan itu saat presentasi dan tanya jawab,” tuturnya.
Berhadapan dengan mahasiswa dari kampus-kampus terbaik se-Indonesia membuatnya sempat merasa kecil. Namun justru di situlah mentalnya ditempa.
Tantangan terbesar bukan hanya riset, melainkan kedisiplinan. Tim harus menuntaskan banyak luaran laporan, logbook, jurnal, mengelola media sosial, hingga menerbitkan buku.
Dari PKM itu, Tiara telah menulis tiga buku bersama timnya. Tekanan waktu dan tuntutan target membuat mental sering teruji.
Untuk bertahan, Tiara mengandalkan manajemen waktu yang ketat. Ia membuat daftar prioritas kuliah sebagai tanggung jawab pada orang tua, PKM sebagai amanah Belmawa, organisasi sebagai komitmen pada tim.
“Kami bukan superman, tapi superteam,” katanya, mengapresiasi dukungan lingkungan yang saling menguatkan.
Di sela kepadatan itu, melukis menjadi ruang pulang. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan pensil dan kanvas didukung penuh oleh sang abang yang menyediakan berbagai perlengkapan seni.
“Melukis bikin saya lega. Rasanya seperti kembali jadi anak kecil yang tidak harus mikirin token listrik,” ujarnya sambil tersenyum.
Bahkan, dari hobi itu, Tiara sempat membuka jasa lukis dan ilustrasi digital.
Soal prestasi, Tiara tidak memaknainya sebagai sekadar piala. Baginya, prestasi membentuk mental dan karakter. Ia belajar toleran, tidak mudah marah, berani mencoba peran baru, serta terlatih berbicara di depan publik.
“Banyak soft skill yang saya dapatkan,” katanya.
Meski demikian, rasa insecure tetap ada. Ia kerap merasa bukan siapa-siapa saat berhadapan dengan orang-orang hebat.
Bahkan saat ditawari wawancara bersama Tribun Medan ini, Tiara sempat bertanya dalam hati apakah kisahnya cukup layak dibagikan. Namun ia memilih satu sikap melakukan yang terbaik.
Cara bangkitnya selalu sama kembali pada circle yang mengingatkan pada Sang Pencipta. “Saya tidak akan sampai di titik ini tanpa ridha-Nya,” ujarnya.
Lingkungan yang baik, menurut Tiara, perlahan mengikis rasa insecure dan mendorong pertumbuhan.
Ke depan, Tiara bermimpi melanjutkan studi ke luar negeri atau setidaknya menempuh S2 di kampus ternama dengan beasiswa.
Ia juga ingin membangun komunitas perempuan berprestasi yang kuat mental, perempuan keren tanpa harus merendahkan laki-laki.
Pesannya sederhana namun tegas: “Kalau kamu nggak coba sekarang, bisa jadi kesempatan itu nggak datang lagi. Tidak ada orang hebat yang langsung hebat. Mereka mencoba dulu.”
Dari Tanjungbalai hingga PIMNAS, Tiara Aurelia membuktikan bahwa perempuan biasa, dengan keberanian mencoba dan kesediaan bangkit, bisa tumbuh menjadi luar biasa. (tribun-medan.com)








Leave a Reply