Advertisement

Mensos: Tidak Boleh Ada Kekerasan Seksual dan Perundungan di Sekolah Rakyat

sumutbisa.online, Deliserdang – Menteri Sosial (Mensos) RI Saifullah Yusuf menegaskan tidak boleh ada kekerasan fisik, seksual hingga perundungan di Sekolah Rakyat (SR). Hal ini disampaikan Saifullah saat mengunjungi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 1 Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara (Sumut).
“Sekolah Rayat juga ini saya titipkan, mari kita awasi bersama. Tidak boleh ada namanya kekerasan fisik, kekerasan seksual, maupun perundungan. Kalau ada yang melakukan itu segera laporkan, saat itu juga kita langsung berhentikan,” ujar Saifullah, Sabtu (31/1/2026).

Pria yang akrab disapa Gus Ipul ini menyampaikan, sanksi bagi pelaku kekerasan di SR tidak pandang bulu. Baik dilakukan oleh guru, wali asuh hingga petugas keamanan.

“Nggak pakai peringatan-peringatan. Saya akan pastikan kalau ada indikasi-indikasi, siapapun itu baik kepala sekolah, guru-guru, wali asrama dan wali asuh, sekuriti-sekuriti. Kalau ada yang melaporkan perundungan, kekerasan fisik dan kekerasan seksual. Di saat itu pula akan kami berikan sanksi berupa pemecatan,” tambahnya.

Saifullah menekankan, sebagai anak didik di SR, seluruh siswa-siswi harus dilindungi dan dihormati. Ia menyebut, Sekolah Rakyat memberlakukan pembelajaran berdasarkan talenta-talenta pemberian Tuhan.

“Anak-anak kita harus dilindungi, anak-anak kita harus dihormati, harus diberikan hak-haknya di sini ada penyandang disabilitas. Harus kita hormati, karena penyandang disabilitas itu sama saja sama kita. Kalau kau diberikan kelemahan tertentu tetapi umumnya penyandang disabilitas juga punya kekuatan tertentu di bidang yang lain,” katanya.

Gus Ipul menjelaskan, syarat untuk masuk ke Sekolah Rakyat tidak memberlakukan tes akademik. Seluruh siswa dan siswi merupakan anak dari keluarga dengan status miskin ekstrem (desil 1 dan 2).

“Di Sekolah Rakyat tidak ada tes akademik. Siapa yang memenuhi kriteria administrasi sebagai keluarga paling tidak mampu mereka berhak masuk sekolah rakyat tidak boleh ada tes akademik. Maka dari itu di sini hebatnya guru-guru Sekolah Rakyat. Guru-guru sadari betul bahwa anak-anak kita beragam, ada yang tadi pintar bahasa Inggris, ada yang pintar Bahasa Arab, ada yang pintar Matematika,” katanya.

Untuk itu, kata Saifullah, guru-guru dan tenaga pendidik berperan sangat besar dalam proses belajar di Sekolah Rakyat.

“Tapi ada juga yang sudah kelas 1 SMA belum bisa membaca. Jadi anak-anak ini kemampuan akademiknya berbeda-beda. Kalau nanti salah satunya menjadi orang hebat berarti yang hebat adalah para kepala sekolah dan guru-gurunya,” ucapnya. (detik.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *