sumutbisa.online, Medan – Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, dalam agenda Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Sumut, dinilai mengindikasikan persoalan politik serius.
Ketidakhadiran Bobby Nasution, yang diusung Partai Golkar pada Pilgub Sumut 2024 bersama Surya tersebut, bisa merembes ke banyak hal, termasuk kursi Ketua DPRD Sumut.
Hal itu dikatakan Pengamat Politik Universitas Sumatera Utara (USU), Agus Suryadi, di Kota Medan, Selasa (3/2/2026).
Menurut Agus Suryadi, tidak tertutup kemungkinan bahwa ketidakhadiran Bobby di Musda Golkar, dimaknai sebagai langkah politik tertentu, termasuk kemungkinan membangun kekuatan politik sendiri di luar struktur partai.
“Absennya Bobby Nasution dari acara Golkar menandakan adanya dinamika yang perlu diperhatikan dalam politik Sumut. Bisa saja ini merupakan langkah strategis untuk membangun kekuatan politik sendiri,” ujarnya.
Namun demikian, Agus menegaskan bahwa dampak dari dinamika tersebut terhadap stabilitas politik Sumut, sangat bergantung pada cara Bobby Nasution dan Partai Golkar menyikapi situasi ini ke depan.
“Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat menimbulkan ketidakpastian dan fragmentasi politik yang berpotensi merugikan kedua belah pihak,” jelasnya.
Lebih lanjut, Agus menilai potensi keretakan antara Ketua DPD Partai Golkar Sumut Andar Amin Harahap dengan Gubernur Sumut sangat mungkin terjadi, terutama jika terdapat perbedaan visi, persaingan kekuasaan, maupun dinamika internal yang tidak harmonis.
“Jika keretakan itu benar-benar terjadi, dampaknya terhadap DPRD akan cukup signifikan. Bisa muncul ketidakstabilan dalam pengambilan keputusan hingga terganggunya program-program pembangunan daerah,” katanya.
Karena itu, Agus menekankan pentingnya komunikasi politik yang intens dan terbuka antara elite partai dan kepala daerah. Ia menyebut, Andar Amin Harahap sebagai ketua baru Golkar Sumut memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan politik.
“Membangun komunikasi yang baik dengan berbagai pihak adalah kunci menjaga stabilitas politik. Andar harus proaktif menjalin hubungan, baik secara internal partai maupun eksternal, agar tercipta suasana politik yang kondusif bagi partai dan masyarakat,” pungkasnya. (medanbisnisdaily.com)








Leave a Reply