Medan, 22 Juli 2026 – Majelis Pengurus Wilayah (MPW) ICMI Muda Sumatera Utara menggelar dialog sejarah bertajuk “Menelusuri Jejak Peradaban: Hubungan Sejarah Kesultanan Aceh dan Kesultanan Deli dalam Pembentukan Identitas Melayu Nusantara” di Aula Nusa Indah, BPSDM Provinsi Sumatera Utara. Kegiatan ini menghadirkan Dr. M. Adli Abdullah, S.H., M.CL., Ph.D., Pakar Hukum Adat dan Akademisi Senior Universitas Syiah Kuala, serta Tengku Moharsyah Nazmi bergelar Tengku Duta Narawangsa sebagai narasumber.
Dialog tersebut turut dihadiri oleh Tengku Osman Amal Ganda Wahid Al Haj, bergelar Tengku Panglima Besar Deli, sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian sejarah, adat, dan budaya Melayu serta penguatan literasi sejarah bagi generasi muda.
Dalam sambutan pembuka, Ketua MPW ICMI Muda Sumatera Utara yang diwakili oleh Ketua Bidang, M. Alpin Lubis, menyampaikan bahwa diskusi sejarah ini merupakan ikhtiar untuk membangun kembali kesadaran generasi muda terhadap akar peradaban Melayu yang menjadi bagian penting dari identitas bangsa.
Menurutnya, hubungan Kesultanan Aceh dan Kesultanan Deli bukan hanya memiliki nilai historis, tetapi juga menyimpan pelajaran tentang kepemimpinan, persatuan, penyebaran Islam, diplomasi, dan pembangunan peradaban yang terbuka terhadap ilmu pengetahuan.
“Melalui forum ini, kami berharap generasi muda tidak hanya mengenal sejarah sebagai cerita masa lalu, tetapi mampu mengambil nilai-nilai yang relevan untuk menjawab tantangan masa kini. Peradaban Melayu dibangun di atas fondasi ilmu, akhlak, persaudaraan, dan keterbukaan. Nilai-nilai inilah yang harus terus kita rawat dan wariskan,” ujar M. Alpin Lubis.
Dalam pemaparannya, Dr. M. Adli Abdullah menjelaskan bahwa Kesultanan Aceh dan Kesultanan Deli merupakan bagian dari jaringan besar Peradaban Melayu Islam yang menghubungkan Nusantara dengan dunia Islam. Mengacu pada pandangan sejarawan Leonard Andaya, Aceh menjadi salah satu pusat pembentukan standar kemelayuan (Malayness) melalui penguatan Islam, adat, pemerintahan, jaringan ulama, perdagangan, dan diplomasi internasional.
Ia juga menguraikan hubungan strategis Kesultanan Aceh dengan Kesultanan Utsmaniyah yang meliputi kerja sama diplomasi, militer, teknologi persenjataan, hingga legitimasi politik. Hubungan tersebut menempatkan Aceh sebagai salah satu simpul penting dunia Islam di kawasan timur dan memperkuat identitas Melayu sebagai identitas peradaban.
Sementara itu, Tengku Moharsyah Nazmi memaparkan sejarah berdirinya Kesultanan Deli yang berawal dari penugasan Sri Paduka Tuanku Gocah Pahlawan oleh Sultan Iskandar Muda untuk memimpin wilayah pesisir timur Sumatra. Hubungan tersebut melahirkan pengaruh besar Aceh terhadap sistem pemerintahan, hukum, adat, dan penyebaran Islam di Deli hingga kemudian berkembang menjadi kesultanan yang mandiri dan berpengaruh di Sumatra Timur.Ia juga menjelaskan berbagai warisan sejarah Kesultanan Deli, seperti Istana Maimun, Masjid Raya Al-Mashun, Meriam Puntung, dan Taman Sri Deli, yang hingga kini menjadi simbol kejayaan peradaban Melayu di Sumatera Utara.
Kehadiran Tengku Osman Amal Ganda Wahid Al Haj sebagai Tengku Panglima Besar Deli menjadi bagian penting dalam dialog tersebut. Kehadiran beliau mencerminkan komitmen Kesultanan Deli dalam mendukung pelestarian sejarah, adat, dan budaya Melayu, sekaligus memperkuat sinergi antara kalangan akademisi, tokoh adat, organisasi kepemudaan, dan masyarakat.Dialog berlangsung secara interaktif dengan antusiasme peserta yang mendiskusikan hubungan historis Aceh dan Deli serta relevansinya dalam memperkuat identitas Melayu Nusantara di tengah tantangan zaman.
Melalui kegiatan ini, MPW ICMI Muda Sumatera Utara berharap lahir kesadaran bahwa sejarah Aceh dan Deli merupakan satu mata rantai peradaban besar Melayu Islam yang telah membentuk identitas masyarakat Nusantara. Nilai-nilai keilmuan, persaudaraan, diplomasi, kemaritiman, dan keterbukaan yang diwariskan kedua kesultanan diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam membangun masa depan bangsa
.”Membicarakan hubungan Aceh dan Deli bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi merumuskan kembali masa depan identitas Melayu Nusantara yang berakar pada Islam, ilmu pengetahuan, budaya, dan keterbukaan terhadap dunia.”









